Kamis, 06 Desember 2012

tingkah laku ikan tongkol


II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Biologi Ikan Tongkol (Guthynnus affinis)
2.2. Klasifikasi Ikan Tongkol (Guthynnus affinis)
Kingdom         : Animalia
Phylum            : Chordata
Class                : Pisces
Ordo                : Percomorphi
Family             : Scombridae
Genus              : Euthinnus
Spesies            : Euthynnus affinis
http://www.bisnisjakarta.optimasiinternet.com/wp-content/uploads/2012/07/supplier-ikan-tongkol-di-kelapa-gading.jpeg
            Gambar 1. Ikan Tongkol (Guthynnus affinis)






2.2.1Morfologi Ikan Tongkol (Guthynnus affinis)
Bentuk tubuh ikan tongkol seperti betuto dengan kulit yang licin . Sirip dada melengkung ujungnya lurus dan pangkalnya sangat kecil. Ikan tongkol merupakan perenang yang tercepat diantara ikan-ikan laut yang berangka tulang. Sirip-sirip punggung, dubur, perut, dan dada pada pangkalnya mempunyai lekukan pada tubuh, sehingga sirip-sirip ini dapat dilipat masuk kedalam lekukan tersebut sehingga dapat memperkecil daya gesekan dari air pada waktu ikan tersebut berenang cepat dan dibelakang sirip punggung dan sirip dubur terdapat sirip-sirip tambahan yang kecil-kecil yang disebut finlet (Cholik 2000).                                                                            Ikan tongkol dapat mencapai ukuran panjang 60– 65 cm dengan berat 1.720 gr pada umur 5 tahun. Panjang pertama kali matang gonad ialah 29-30cm. Ikan tongkol memiliki 10– 12 jari-jari sirip punggung,10– 13 jari-jari halus sirip punggung,10– 14 jari-jari halus sirip dubur dengan warna punggung kebiru-biruan.Sebuah pola 15 garis-garis halus miring hampir horisontal,garis bergelombang gelap di daerah scaleless diatas gurat sisi (linea lateralis) bagian bawah agak putih (cerah), dada dan sirip perut ungu sisi bagian dalam mereka hitam badan kuat memanjang dan bulat.  Gigi kecil dan berbentuk kerucut dalam rangkaian tunggal. Sirip dada pendek tapi mencapai garis vertikal melewati batas anterior dari daerah scaleless atas corselet. Sebuah flap tunggal besar (proses interpelvic) antara sirip perut tubuh telanjang kecuali untuk corselet yang dikembangkan dengan baik dan sempit di bagian posterior (tidak lebih dari 5 skala yang luas di bawah asal-sirip punggung kedua). Sebuah keel pusat yang kuat pada setiap sisi dasar sirip ekor-kecil antara 2 keel (Cholik 2000).

2.2.2 Makanan dan Kebiasaan Makan Ikan Tongkol (Guthynnus affinis)
Maksud mempelajari kebiasaan makanan ikan ialah menentukan gizi alamiah suatu ikan. Dengan mengetahui kebiasaan makan ikan maka dapat dilihat antara hubungan ekologi diantara organisme perairan tersebut. Misalnya bentuk-bentuk pemangsaan, saingan dan rantai makanan. Jadi makanan dapat merupakan faktor yang sangat menentukan bagi populasi, pertumbuhan dan kondisi ikan. Sedangkan macam makanan suatu spesies ikan biasanya bergantung kepada umur ikan, tempat hidup ikan dan waktu (Fujaya, 2004).
Komposisi makanan yang terdapat pada lambung ikan tongkol dianalisis sebagian dapat diidentifikasi sampai tingkat genus seperti euthynnus, sementara sebagian lain hanya sampai tingkat famili misalnya scombridae, dan bahkan ada taksa di atas famili antara lain Polychaeta. Hal ini terjadi karena proses pencernaan sudah berjalan sehingga yang ditemukan adalah organisme yang tidak utuh lagi. Dengan melihat jenis makanannya dapat ditarik satu kesimpulan bahwa ikan tongkol termasuk ke dalam kelompok karnivor (Sjafei dan Robiyani, 2007).








2.2.3 Habitat dan Daerah Penyebaran Ikan Tongkol (Guthynnus affinis)
Ikan tongkol ditemukan pada kedalaman lebih dari 100 m. Ikan ini terdapat pada lingkungan mencakup 100-330 m. Habitatnya di daerah karang dan area dasar berbatu-batu dengan kedalaman minimal 100 m. Ikan ini ditemukan pada kedalaman 90-360 m. Ikan tongkol terdapat pada kedalaman lebih dari 100 m (antara 100-600 m). Distribusi ikan tongkol meliputi bagian utara sampai selatan Jepang, secara luas ditemukan di Indo-Pasifik. Ikan ini penyebarannya selain di Indo-Pasifik juga terdapat di timur Afrika. Kepulauan hawai, utara Ryukyu. Kepulauan Ogasawara, Australia Selatan dan Atlantik Tenggara: Port Alfred, Afrika Selatan.
2.3.    Morfologi Mata Ikan Tongkol
2.3.1  Retina Mata
Menurut Purbayanto et al. (2010), struktur retina mata ikan yang berisi reseptor dari indra penglihatan sangat bervariasi untuk jenis ikan yang berbeda. Pada teleostei yang memiliki jenis retina duplek dengan pengertian bahwa dalam retina ikan terdapat kedua jenis reseptor yang dinamakan rod dan cone. Cone (sel kerucut) dan rod (sel batang) pada retina mata adalah dua jenis fotoreseptor yang masing-masing berbentuk kerucut dan batang yang digunakan dalam aktivitas yang berbeda. Sel kerucut dipakai pada aktivitas siang hari dan sel batang pada aktivitas malam hari,artinya sel kerucut bertanggung jawab pada penglihatan cahaya terang (penglihatan fotopik) dan sel batang pada penglihatan cahaya samar (penglihatan skotopik).Struktur retina mata ikan yang berisi reseptor dari indra penglihatan sangat berfariasi untuk jenis ikan yang berbeda.pasa teleostei yang memili retina diplek,dengan pengertian bahwa dalam retina mata ikan terdapat kedua jenis resetor yang dinamakan rod dan kon pada umumnya terjadi distribusi dari kedua jenis reseptor tersebut yang berbeda untuk bagian yang berlainan dari retinanya yang biasanya erat hubungannya dengan pemanfaatan indra penglihatan tersebut dalam lingkungan hidupnya (purbayanto 2010)
Menurut Matsuoka dalam Purbayanto (2010), menjelaskan bahwa retina ikan umumnya terdiri atas tiga tipe pada lapisan indra penglihatan (visual celi layer) yaitu sel kon tunggal (single cone), sel kon ganda (double/twin cone), dan sel rod. Sel kon ganda (doble cone) adalah dua sel kon tunggal yang bergabung (tidak berasal dari sel kon tunggal yang membelah) dengan kondisi ukuran yang tidak sama. Ada beberapa spesies ikan yang memiliki sel kon tunggal yang bergabung dengan ukuran yang serupa dan dikenal dengan sel kon kembur (twin cone). Bentuk sel kerucut (cone cell) dan sel batang (rod cell) dan macam pola mosaik fotoreseptor.
2.3.2  Vitreous Humor
Menurut Campbell et al. (2004), lensa dan badan bersilia (ciliary body) membagi mata menjadi dua rongga, satu di antara lensa dan kornea dan satu rongga yang lebih besar terletak di belakang lensa di dalam bola mata. Badan bersilia selalu menghasilkan aqueous humor yang berair dan bening yang mengisi rongga bagian dalam bola mata. Rongga posterior yang penuh dengan vitreous humor yang mirip jeli menyusun sebagian besar volume mata. Vitreous humor berfungsi sebagai lensa cair yang membantu memfokuskan cahaya ke retina. Viteous body adalah ruangan dibelakang lensa yang diisi oleh cairan gel transparan yang berfungsi sebagai pendukung mekanis yang mengelilingi jaringan okuler dan meneruskan cahaya sampai menuju retina.
2.3.4  Lensa mata                                                                                                      Mata memiliki bentuk  lensa yang bulat.Pemfokusan cahaya dilakukan melalui pergerakan lensa.Lensa mata ikan akan bergerak ke depan menjauhi retina untuk pandangan dekat dan sebaliknya bergerak mendekati retina secara berlahan-lahan oleh bantuan otot retraktor untuk pandangan jauh,iris juga berperan dalam memperlebar sudut lensa,yakni dengan meluruskan perlahan – lahan bentuk bola mata (purbayanto 2010).
2.4     Analisis Penglihatan Ikan

2.4.1  Ketajaman penglihatan
Menurut Purbayanto et al. (2010), ketajaman penglihatan pada ikan adalah kemampuan ikan untuk melihat dua titik dari suatu objek pada suatu garis digambarkan dalam bentuk hubungan timbal balik yang diperlihatkan dalam istilah sudut pembeda terkecil. Analisis ini untuk membedakan dua sasaran penglihatan terdekat yang dapat diukur melalui pengujian histologi. Ketajaman penglihatan ikan tergantung pada dua faktor, yaitu diameter lensa dan kepadatan sel kon pada retina. Ketajaman penglihatan (visual acuity) dihitung berdasarkan nilai kepadatan sel kon setiap 0,01 mm2 luasan pada masing-masing bagian dari retina dengan menggunakan rumus sudut pembeda terkecil (minimum separable angle):
αrad =
Keterangan :
αrad                : Sudut pembeda terkecil dalam satuan derajat
F                   : Jarak fokus lensa (berdasarkan rasio Matthiensson’s (F=2,55r)
0,25              : Nilai penyusustan spesimen mata akibat proses histologi
n                   : Jumlah sel kon terpadat per luasan 0,01 mm2 yang merupakan hasil pengamatan dibawah mikroskop
Ketajaman penglihatan (visual acuity) merupakan kebalikan dari nilai sudut pembeda terkecil yang dikonversi dengan rumus sebagai berikut:
VA =
2.4.2  Sumbu penglihatan
Menurut Purbayanto et al. (2010), sumbu penglihatan (visual axis) diidentifikasi untuk mengetahui kebiasaan ikan dalam melihat makanan atau obyek yang lain. Sumbu penglihatan diperoleh setelah nilai kepadatan sel kon tiap bagian dari retina mata diketahui. Daerah retina yang memiliki kepadatan sel kon tertinggi pada bagian dorso-temporal dengan perubahan arah pada diopter ke arah depan menurun (lower-fore) maka sumbu penglihatan juga akan ke arah depan menurun pada sudut berkisar 200. Bila kepadatan tertinggi sel kon di bagian temporal, maka ada dua kemungkinan untuk perubahan arah pada diopter, jika perubahan arah pada diopter ke arah depan  maka maka sumbu penglihatan juga akan ke arah depan pada sudut 00, sedangkan perubahan arah pada diopter ke arah depan-naik (upper-fore) maka sumbu penglihatan juga akan ke arah depan dan depan-naik (fore-upper-fore) pada sudut 300. Kepadatan tertinggi sel kon di bagian ventro-temporal, maka perubahan arah pada diopter ke arah depan-naik (upper-fore) maka sumbu penglihatan juga akan ke arah depan-naik (upper-fore) pada sudut 300.

2.4.3  Jarak pandang maksimum
Menurut Purbayanto et al. (2010), jarak pandang maksimum (maximum sighting distance/MSD) adalah kemampuan ikan untuk melihat suatu objek benda secara jelas pada jarak tertentu. Untuk mengetahui kemampuan jarak pandang maksimum ikan, terlebih dahulu perlu diketahui nilai sudut pembeda terkecil/minimum separable angle dalam satuan menit. Rumus jarak pandang maksimum sebagai berikut:
D =
Keterangan  :
D                     : Jarak pandang maksimum
d                      : Diameter Objek (mm)
αrad                         : Sudut pembeda terkecil (menit)
2.5  Suara di Perairan
Suara merupakan hasil dari getaran (vibrasi) fisik media. Kita biasa mengenal suara yang ditransmisikan melalui udara, suatu media yang relatif rendah kerapatannya (densitasnya) yang sifat transmisinya kalah dengan air–suatu media yang lebih tinggi kerapatannya, dimana gelombang suara berjalan hampir lima kali lebih cepat dari yang di dalam udara. Untuk menginisiasi energi suara di dalam air diperlukan lebih banyak energi, namun begitu telah muncul suara dalam air merambat mencapai jarak yang jauh dengan tingkat kehilangan yang sangat kecil dan dengan kecepatan tinggi. Lagi pula, transmisi gelombang suara jarak jauh diperkuat oleh pemantulan (refleksi) dari permukaan air, dasar perairan, serta batas-batas lapisan pada suhu berbeda (Saifurridjal et al., 2010).
2.6              Organ Penerima Getaran Suara pada Ikan                                                             2.6.1     Inner ear
          Ikan dihadapkan pada kesulitan mendenagar di dalam air. Kerapatan daging ikan tidak jauh berbeda dengan lingkungannya karena telinga bagian dalam ikan terbungkus oleh tengkorak maka bunyi dapat di tangkap oleh tulang tengkorak tersebut kemudian diteruskan ke jaringan telinga bagian dalam.Ikan memiliki telinga dalam sebagaimana yang dimiliki manusia yakni kanal semisirkular dan otolit tetapi tidak memiliki telinga luar dan tengah. Telinga dalam pada ikan merupakan organ keseimbangan dan pendengaran. Telinga ikan memiliki dua reseptor, yakni kanal semisirkular yang bertanggungjawab mendeteksi  perubahan arah dan otolit yang berperan sebagai indra pendengaran dan melaporkan arah gravitasi. Kombinasi informasi dinamis dan statis dari kedua bagian yang berbeda pada telinga dalam membuata ikan senantiasa dapat beraktivitas secara normal pada malam hari atau selama cahaya kurang. Telinga dalam terdiri dari tiga kanal semisirkular (anterior,posterior dan horizontal) memanjang keluara dari utrikel dan terisi endolymph. Bagian dasar kanal membesar seperti ampula dengan sel rambut yang dilindungi kapula. Bagian kupula ini akan bertindak sebagai diafrakma untuk mendeteksi cairan yang mengalir pada kanal  gerakan cairan yang terdapat pada kanal meransang sensor sel-sel rambut yang terdapat pada dasar kanal (purbayanto 2010).


2.6.2  Gelembung renang
          Gelembung renang berisi gas merupakan organ lain dari ikan yang memiliki kerapatan yang sangat berbeda dengan air dan daging ikan. Namun demikian umumnya gelembung renang tidak berhubungan dengan organ telinga bagian dalam dari ikan. Kelompok ikan clupeifoemes,holocentridae dan sejumlah ikan lain memiliki gelembung renang yang khusus yang berhubungan langsung dengan organ telinga bagian dalam. Ikan-ikan tersebut memiliki pendengaran yang jauh lebih peka. Hal tersebut disebabkan karena gelembung renang berfungsi sabagai resonansi pendengaran maupun saat mengeluarkan frekuensi suara (purbayanto 2010).
2.6.3  Linea lateralis
Menurut Fujaya (2008), sistem linea lateralis tidak didapatkan pada manusia. Sistem ini bekerja sebagai reseptor hidrodinamik sebagaimana telinga dalam atau detektor pergerakan frekuensi rendah sebagai organ pendengaran dalam air. Fungsi-fungsi ini membuat linea lateralis penting dalam memulai respons tingkah laku untuk menghindari hambatan sambil berenang, untuk bergerombol, untuk menghindari predator, atau untuk menangkap mangsa.
Sistem linea lateralis berperan dalam setiap aktivitas ikan. Kegiatan migrasi ikan misalnya dapat dilakukan karena adanya informasi line lateralis tentang identifikasi kecepatan dan kekuatan arus sehingga dapat membawa mereka ke laut. Dengan mata tertutup ikan dapat berkeliling tanpa menabrak objek karena adanya sistem linea lateralis, terutama yang terdapat pada kepala. Pergerakan ikan menghasilkan busur gelombang yang mengelilingi kepala dan busur gelombang yang dikembalikan objek dideteksi oleh linea lateralis (Fujaya 2008).
2.7  Stress pada Ikan
        Respons stres ikan merupakan tahapan yang didahului oleh respons neuroendokrin yang terjadi setelah faktor stres di terima ikan termasuk proses fisiologisnya,yaitu sistem syaraf dan endokrin. Hormon yang menyebabkan terjadinya stres dalam tubuh ikan yaitu:hormon ktekolamin dan kortikolsteroid. Efek lain yang di timbulkan adalah efek primer dan efek sekunder, dimana efek primer menyebabkan gangguan metabolik dan efek sekunder menyebabkan gangguan osmotik pada sistem neuroendokrin darah. Stres ikan dapat diakibatkan oleh beberapa jenis,yaitu: suhu,tekanan osmotik,racun,infeksi stimulasi (purbayanto  2010).
2.8  Tingkah Laku Ikan terhadap Suara
Menurut Purbayanto et al. (2010), ikan peka terutama terhadap suara-suara berfrekuensi lebih rendah. Kisaran pendengaran yang paling efisien meliputi kisaran sekitar 200-600 Hz (siklus perdetik) dimana bentangan ini adalah yang paling baik divisualisasikan. Sebagai contoh, apabila kita memandang nada C tengah pada skala musik sebanding dengan 256 Hz, satu octave merepresentasikan dua kali dari
frekuensi ini, maka nada di atas nada C tengah tersebut berarti 512 Hz. Suara pidato manusia mempunyai komponen dasar pada kisaran frekuensi 300-3.000 Hz. Di atas 1.000 Hz, kepekaan pendengaran ikan turun drastis. Bandingkan kisaran ini dengan kepekaan paling tinggi telinga manusia yaitu pada kisaran 20.000 Hz, paling tidak untuk telinga-telinga orang muda.



2.9  Tingkah Laku Ikan terhadap suhu
Menurut APHA (1976) dalam Effendi 2003, pada umumnya, suhu dinyatakan dengan satuan derajat Celsius (ͦC) atau deerajat Fahrenheit (ᵒF). Pengukuran suhu pada kolam air dengan kedalaman tertentu dapat dilakukan dengan menggunakan reversing thermometer, thermophone, atau thermistor.
Cahaya matahari yang masuk ke perairan akan mengalami penyebaran dan perubahan menjadi energi panas. Proses peyerapan cahaya ini berlangsung secara lebih intensif pada lapisan atas sehingga lapisan atas perairan memiliki suhu yang lebih tinggi (lebih panas) dan densitas yang lebih kecil daripada lapisan bawah. Kondisi ini mengakibatkan statifikasi panas (thermal stratification) pada kolom air (Effendie, 2003).

1 komentar: