II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Biologi
Ikan Tongkol (Guthynnus affinis)
2.2. Klasifikasi
Ikan Tongkol (Guthynnus affinis)
Kingdom
: Animalia
Phylum
: Chordata
Class
: Pisces
Ordo
: Percomorphi
Family : Scombridae
Genus
: Euthinnus
Spesies
: Euthynnus affinis

Gambar 1. Ikan Tongkol
(Guthynnus affinis)
2.2.1Morfologi Ikan Tongkol
(Guthynnus affinis)
Bentuk tubuh ikan
tongkol seperti betuto dengan kulit yang licin . Sirip dada melengkung ujungnya
lurus dan pangkalnya sangat kecil. Ikan tongkol merupakan perenang yang
tercepat diantara ikan-ikan laut yang berangka tulang. Sirip-sirip punggung,
dubur, perut, dan dada pada pangkalnya mempunyai lekukan pada tubuh, sehingga
sirip-sirip ini dapat dilipat masuk kedalam lekukan tersebut sehingga dapat
memperkecil daya gesekan dari air pada waktu ikan tersebut berenang cepat dan
dibelakang sirip punggung dan sirip dubur terdapat sirip-sirip tambahan yang
kecil-kecil yang disebut finlet (Cholik 2000). Ikan
tongkol dapat mencapai ukuran panjang 60– 65 cm dengan berat 1.720 gr pada umur
5 tahun. Panjang pertama kali matang gonad ialah 29-30cm. Ikan tongkol memiliki 10– 12 jari-jari
sirip punggung,10– 13 jari-jari halus sirip punggung,10– 14 jari-jari halus
sirip dubur dengan warna punggung kebiru-biruan.Sebuah pola 15 garis-garis
halus miring hampir horisontal,garis bergelombang gelap di daerah scaleless
diatas gurat sisi (linea lateralis) bagian bawah agak putih (cerah), dada dan
sirip perut ungu sisi bagian dalam mereka hitam badan kuat memanjang dan bulat.
Gigi kecil dan berbentuk kerucut dalam
rangkaian tunggal. Sirip dada pendek tapi mencapai garis vertikal melewati
batas anterior dari daerah scaleless atas corselet. Sebuah flap tunggal besar
(proses interpelvic) antara sirip perut tubuh telanjang kecuali untuk corselet yang
dikembangkan dengan baik dan sempit di bagian posterior (tidak lebih dari 5
skala yang luas di bawah asal-sirip punggung kedua). Sebuah keel pusat yang
kuat pada setiap sisi dasar sirip ekor-kecil antara 2 keel (Cholik 2000).
2.2.2 Makanan dan Kebiasaan Makan Ikan Tongkol (Guthynnus affinis)
Maksud mempelajari kebiasaan makanan ikan ialah
menentukan gizi alamiah suatu ikan. Dengan
mengetahui kebiasaan makan ikan maka dapat dilihat antara hubungan ekologi
diantara organisme perairan tersebut. Misalnya bentuk-bentuk pemangsaan,
saingan dan rantai makanan. Jadi makanan dapat merupakan faktor yang sangat
menentukan bagi populasi, pertumbuhan dan kondisi ikan. Sedangkan macam makanan
suatu spesies ikan biasanya bergantung kepada umur ikan, tempat hidup ikan dan
waktu (Fujaya, 2004).
Komposisi makanan yang terdapat pada lambung ikan
tongkol dianalisis sebagian dapat diidentifikasi sampai tingkat genus seperti euthynnus, sementara sebagian lain hanya
sampai tingkat famili misalnya scombridae,
dan bahkan ada taksa di atas famili antara lain Polychaeta. Hal ini terjadi karena proses pencernaan sudah berjalan
sehingga yang ditemukan adalah organisme yang tidak utuh lagi. Dengan melihat
jenis makanannya dapat ditarik satu kesimpulan bahwa ikan tongkol termasuk ke
dalam kelompok karnivor (Sjafei dan Robiyani, 2007).
2.2.3 Habitat dan Daerah Penyebaran Ikan Tongkol (Guthynnus affinis)
Ikan tongkol
ditemukan pada kedalaman lebih dari 100 m. Ikan ini terdapat pada lingkungan
mencakup 100-330 m. Habitatnya di daerah karang dan area dasar berbatu-batu
dengan kedalaman minimal 100 m. Ikan ini ditemukan pada kedalaman 90-360 m.
Ikan tongkol terdapat pada kedalaman lebih dari 100 m (antara 100-600 m). Distribusi
ikan tongkol meliputi bagian utara sampai selatan Jepang, secara luas ditemukan
di Indo-Pasifik. Ikan ini penyebarannya selain di Indo-Pasifik juga terdapat di
timur Afrika. Kepulauan hawai, utara Ryukyu. Kepulauan Ogasawara, Australia
Selatan dan Atlantik Tenggara: Port Alfred, Afrika Selatan.
2.3. Morfologi Mata Ikan Tongkol
2.3.1 Retina Mata
Menurut Purbayanto et al. (2010), struktur retina mata ikan yang berisi reseptor dari
indra penglihatan sangat bervariasi untuk jenis ikan yang berbeda. Pada
teleostei yang memiliki jenis retina duplek dengan pengertian bahwa dalam
retina ikan terdapat kedua jenis reseptor yang dinamakan rod dan cone. Cone (sel
kerucut) dan rod (sel batang) pada retina mata adalah dua jenis fotoreseptor
yang masing-masing berbentuk kerucut dan batang yang digunakan dalam aktivitas
yang berbeda. Sel kerucut dipakai pada aktivitas siang hari dan sel batang pada
aktivitas malam hari,artinya sel kerucut bertanggung jawab pada penglihatan
cahaya terang (penglihatan fotopik) dan sel batang pada penglihatan cahaya
samar (penglihatan skotopik).Struktur retina mata ikan yang berisi reseptor
dari indra penglihatan sangat berfariasi untuk jenis ikan yang berbeda.pasa
teleostei yang memili retina diplek,dengan pengertian bahwa dalam retina mata
ikan terdapat kedua jenis resetor yang dinamakan rod dan kon pada umumnya
terjadi distribusi dari kedua jenis reseptor tersebut yang berbeda untuk bagian
yang berlainan dari retinanya yang biasanya erat hubungannya dengan pemanfaatan
indra penglihatan tersebut dalam lingkungan hidupnya (purbayanto 2010)
Menurut
Matsuoka dalam Purbayanto (2010), menjelaskan bahwa retina ikan umumnya terdiri
atas tiga tipe pada lapisan indra penglihatan (visual celi layer) yaitu sel kon tunggal (single cone), sel kon ganda (double/twin
cone), dan sel rod. Sel kon ganda (doble
cone) adalah dua sel kon tunggal yang bergabung (tidak berasal dari sel kon
tunggal yang membelah) dengan kondisi ukuran yang tidak sama. Ada beberapa
spesies ikan yang memiliki sel kon tunggal yang bergabung dengan ukuran yang
serupa dan dikenal dengan sel kon kembur (twin
cone). Bentuk sel kerucut (cone cell) dan sel batang (rod cell) dan macam pola mosaik
fotoreseptor.
2.3.2 Vitreous Humor
Menurut
Campbell et al. (2004), lensa dan badan bersilia (ciliary body) membagi mata menjadi dua
rongga, satu di antara lensa dan kornea dan satu rongga yang lebih besar
terletak di belakang lensa di dalam bola mata. Badan bersilia
selalu menghasilkan aqueous humor
yang berair dan bening yang mengisi rongga bagian dalam bola mata. Rongga posterior yang penuh dengan vitreous humor yang mirip jeli menyusun
sebagian besar volume mata. Vitreous
humor berfungsi sebagai lensa cair yang membantu memfokuskan cahaya ke
retina. Viteous body adalah
ruangan dibelakang lensa yang diisi oleh cairan gel transparan yang berfungsi
sebagai pendukung mekanis yang mengelilingi jaringan okuler dan meneruskan
cahaya sampai menuju retina.
2.3.4 Lensa mata Mata memiliki
bentuk lensa yang bulat.Pemfokusan
cahaya dilakukan melalui pergerakan lensa.Lensa mata ikan akan bergerak ke
depan menjauhi retina untuk pandangan dekat dan sebaliknya bergerak mendekati
retina secara berlahan-lahan oleh bantuan otot retraktor untuk pandangan jauh,iris
juga berperan dalam memperlebar sudut lensa,yakni dengan meluruskan perlahan –
lahan bentuk bola mata (purbayanto 2010).
2.4 Analisis Penglihatan Ikan
2.4.1 Ketajaman penglihatan
Menurut Purbayanto et al. (2010), ketajaman penglihatan pada ikan adalah kemampuan
ikan untuk melihat dua titik dari suatu objek pada suatu garis digambarkan
dalam bentuk hubungan timbal balik yang diperlihatkan dalam istilah sudut
pembeda terkecil. Analisis ini untuk membedakan dua sasaran penglihatan
terdekat yang dapat diukur melalui pengujian histologi. Ketajaman penglihatan
ikan tergantung pada dua faktor, yaitu diameter lensa dan kepadatan sel kon
pada retina. Ketajaman penglihatan (visual
acuity) dihitung berdasarkan nilai kepadatan sel kon setiap 0,01 mm2
luasan pada masing-masing bagian dari retina dengan menggunakan rumus sudut
pembeda terkecil (minimum separable angle):
αrad = 

Keterangan :
αrad : Sudut pembeda terkecil dalam
satuan derajat
F : Jarak fokus lensa
(berdasarkan rasio Matthiensson’s (F=2,55r)
0,25 : Nilai penyusustan spesimen mata
akibat proses histologi
n : Jumlah sel kon terpadat per
luasan 0,01 mm2 yang merupakan hasil pengamatan dibawah mikroskop
Ketajaman
penglihatan (visual acuity) merupakan kebalikan dari nilai sudut pembeda
terkecil yang dikonversi dengan rumus sebagai berikut:
VA = 

2.4.2 Sumbu penglihatan
Menurut
Purbayanto et al. (2010), sumbu
penglihatan (visual axis)
diidentifikasi untuk mengetahui kebiasaan ikan dalam melihat makanan atau obyek
yang lain. Sumbu penglihatan diperoleh setelah nilai kepadatan sel kon tiap
bagian dari retina mata diketahui. Daerah retina yang memiliki kepadatan sel
kon tertinggi pada bagian dorso-temporal dengan perubahan arah pada diopter
ke arah depan menurun (lower-fore) maka sumbu penglihatan juga akan ke
arah depan menurun pada sudut berkisar 200. Bila kepadatan tertinggi
sel kon di bagian temporal, maka ada dua kemungkinan untuk perubahan
arah pada diopter, jika perubahan arah pada diopter ke arah
depan maka maka sumbu penglihatan juga
akan ke arah depan pada sudut 00, sedangkan perubahan arah pada diopter
ke arah depan-naik (upper-fore) maka sumbu penglihatan juga akan ke arah
depan dan depan-naik (fore-upper-fore) pada sudut 300.
Kepadatan tertinggi sel kon di bagian ventro-temporal, maka perubahan
arah pada diopter ke arah depan-naik (upper-fore) maka sumbu
penglihatan juga akan ke arah depan-naik (upper-fore) pada sudut 300.
2.4.3 Jarak pandang maksimum
Menurut
Purbayanto et al. (2010), jarak
pandang maksimum (maximum sighting
distance/MSD) adalah kemampuan ikan untuk melihat suatu objek benda secara
jelas pada jarak tertentu. Untuk mengetahui kemampuan jarak pandang maksimum
ikan, terlebih dahulu perlu diketahui nilai sudut pembeda terkecil/minimum separable angle dalam satuan
menit. Rumus jarak pandang maksimum sebagai berikut:
D = 

Keterangan :
D : Jarak pandang maksimum
d : Diameter Objek (mm)
αrad : Sudut
pembeda terkecil (menit)
2.5
Suara di Perairan
Suara merupakan hasil dari getaran (vibrasi) fisik media.
Kita biasa mengenal suara yang ditransmisikan melalui udara, suatu media yang
relatif rendah kerapatannya (densitasnya) yang sifat transmisinya kalah dengan
air–suatu media yang lebih tinggi kerapatannya, dimana gelombang suara berjalan
hampir lima kali lebih cepat dari yang di dalam udara. Untuk menginisiasi
energi suara di dalam air diperlukan lebih banyak energi, namun begitu telah
muncul suara dalam air merambat mencapai jarak yang jauh dengan tingkat
kehilangan yang sangat kecil dan dengan kecepatan tinggi. Lagi pula, transmisi
gelombang suara jarak jauh diperkuat oleh pemantulan (refleksi) dari permukaan
air, dasar perairan, serta batas-batas lapisan pada suhu berbeda (Saifurridjal et al., 2010).
2.6
Organ Penerima Getaran
Suara pada Ikan 2.6.1 Inner ear
Ikan dihadapkan pada kesulitan
mendenagar di dalam air. Kerapatan daging ikan tidak jauh berbeda dengan
lingkungannya karena telinga bagian dalam ikan terbungkus oleh tengkorak maka
bunyi dapat di tangkap oleh tulang tengkorak tersebut kemudian diteruskan ke
jaringan telinga bagian dalam.Ikan memiliki telinga dalam sebagaimana yang
dimiliki manusia yakni kanal semisirkular dan otolit tetapi tidak memiliki
telinga luar dan tengah. Telinga dalam pada ikan merupakan organ keseimbangan
dan pendengaran. Telinga ikan memiliki dua reseptor, yakni kanal semisirkular
yang bertanggungjawab mendeteksi
perubahan arah dan otolit yang berperan sebagai indra pendengaran dan
melaporkan arah gravitasi. Kombinasi informasi dinamis dan statis dari kedua
bagian yang berbeda pada telinga dalam membuata ikan senantiasa dapat
beraktivitas secara normal pada malam hari atau selama cahaya kurang. Telinga
dalam terdiri dari tiga kanal semisirkular (anterior,posterior dan horizontal)
memanjang keluara dari utrikel dan terisi endolymph.
Bagian dasar kanal membesar seperti ampula dengan sel rambut yang
dilindungi kapula. Bagian kupula ini akan bertindak sebagai diafrakma untuk mendeteksi
cairan yang mengalir pada kanal gerakan
cairan yang terdapat pada kanal meransang sensor sel-sel rambut yang terdapat
pada dasar kanal (purbayanto 2010).
2.6.2 Gelembung renang
Gelembung renang berisi
gas merupakan organ lain dari ikan yang memiliki kerapatan yang sangat berbeda
dengan air dan daging ikan. Namun demikian umumnya gelembung renang tidak
berhubungan dengan organ telinga bagian dalam dari ikan. Kelompok ikan
clupeifoemes,holocentridae dan sejumlah ikan lain memiliki gelembung renang
yang khusus yang berhubungan langsung dengan organ telinga bagian dalam.
Ikan-ikan tersebut memiliki pendengaran yang jauh lebih peka. Hal tersebut
disebabkan karena gelembung renang berfungsi sabagai resonansi pendengaran
maupun saat mengeluarkan frekuensi suara (purbayanto 2010).
2.6.3 Linea
lateralis
Menurut Fujaya (2008), sistem linea lateralis tidak didapatkan pada
manusia. Sistem ini bekerja sebagai reseptor hidrodinamik sebagaimana telinga
dalam atau detektor pergerakan frekuensi rendah sebagai organ pendengaran dalam
air. Fungsi-fungsi ini membuat linea
lateralis penting dalam memulai respons tingkah laku untuk menghindari
hambatan sambil berenang, untuk bergerombol, untuk menghindari predator, atau
untuk menangkap mangsa.
Sistem linea
lateralis berperan dalam setiap aktivitas ikan. Kegiatan migrasi ikan
misalnya dapat dilakukan karena adanya informasi line lateralis tentang identifikasi kecepatan dan kekuatan arus
sehingga dapat membawa mereka ke laut. Dengan mata tertutup ikan dapat
berkeliling tanpa menabrak objek karena adanya sistem linea lateralis, terutama yang terdapat pada kepala. Pergerakan
ikan menghasilkan busur gelombang yang mengelilingi kepala dan busur gelombang
yang dikembalikan objek dideteksi oleh linea
lateralis (Fujaya 2008).
2.7
Stress pada Ikan
Respons stres ikan merupakan tahapan
yang didahului oleh respons neuroendokrin yang terjadi setelah faktor stres di
terima ikan termasuk proses fisiologisnya,yaitu sistem syaraf dan endokrin. Hormon
yang menyebabkan terjadinya stres dalam tubuh ikan yaitu:hormon ktekolamin dan
kortikolsteroid. Efek lain yang di timbulkan adalah efek primer dan efek
sekunder, dimana efek primer menyebabkan gangguan metabolik dan efek sekunder menyebabkan
gangguan osmotik pada sistem neuroendokrin darah. Stres ikan dapat diakibatkan
oleh beberapa jenis,yaitu: suhu,tekanan osmotik,racun,infeksi stimulasi (purbayanto 2010).
2.8 Tingkah Laku Ikan terhadap Suara
Menurut Purbayanto et
al. (2010), ikan peka terutama terhadap suara-suara berfrekuensi lebih
rendah. Kisaran pendengaran yang paling efisien meliputi kisaran sekitar
200-600 Hz (siklus perdetik) dimana bentangan ini adalah yang paling baik
divisualisasikan. Sebagai contoh, apabila kita memandang nada C tengah pada
skala musik sebanding dengan 256 Hz, satu octave
merepresentasikan dua kali dari
frekuensi ini, maka nada
di atas nada C tengah tersebut berarti 512 Hz. Suara pidato manusia mempunyai
komponen dasar pada kisaran frekuensi 300-3.000 Hz. Di atas 1.000 Hz, kepekaan
pendengaran ikan turun drastis. Bandingkan kisaran ini dengan kepekaan paling
tinggi telinga manusia yaitu pada kisaran 20.000 Hz, paling tidak untuk
telinga-telinga orang muda.
2.9 Tingkah Laku Ikan terhadap suhu
Menurut
APHA (1976) dalam Effendi 2003, pada umumnya, suhu dinyatakan dengan satuan
derajat Celsius (ͦC) atau deerajat Fahrenheit (ᵒF). Pengukuran suhu pada kolam
air dengan kedalaman tertentu dapat dilakukan dengan menggunakan reversing thermometer, thermophone, atau thermistor.
Cahaya
matahari yang masuk ke perairan akan mengalami penyebaran dan perubahan menjadi
energi panas. Proses peyerapan cahaya ini berlangsung secara lebih intensif
pada lapisan atas sehingga lapisan atas perairan memiliki suhu yang lebih
tinggi (lebih panas) dan densitas yang lebih kecil daripada lapisan bawah.
Kondisi ini mengakibatkan statifikasi panas (thermal stratification) pada kolom air (Effendie, 2003).
terimakasihhhh...
BalasHapus